Pemahaman Agama yang Tidak Tepat Menyebabkan Fanatisme Buta

MUHAMMADIYAH.OR.ID, JOMBANG – Fanatisme beragama merupakan salah satu keyakinan untuk meyakini agama secara mendalam dan kuat. Terkait itu, secara otentik dapat dibenarkan dan menjadi normal pada awalnya. Namun, paham fanatisme beragama itu dipahami secara parsial dalam dimensi bayani tekstual yang tidak utuh.

Selain itu juga tidak ada istiqra’ ma’nawi (upaya pengembangan hukum Islam) di dalam memahami ayat dan tidak mencoba mencari hubungan antar ayat. Maka justru terjadi pemahaman-pemahaman dangkal yang pada akhirnya melahirkan fanatisme buta pada agama.

“Fanatiknya sudah cukup baik, tapi butanya itu yang gak baik,” tegas Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir, Sabtu (6/2).

Oleh karena itu, menurut Haedar, Islam yang benar harus diyakini dalam tiga perspektif pemahaman. Dalam hal ini Muhammadiyah menggunakan pendekatan bayani (mendalam), burhani (multi perspektif), dan irfani (luas).

“Ketika kita hanya mengambil satu aspek pemahaman saja, yakni pemahaman yang mendalam dan kuat tentang Islam, serta mengabaikan perspektif burhani dan irfani, tentu hal tersebut akan menimbulkan pemahaman yang fanatik buta, ekstrim, dan intoleran,” terangnya.

Akibat dari pemahaman yang sempit tentang Islam justru menyebabkan seorang muslim mengalami fanatisme buta juga membabi buta. Dalam kelompok masyarakat sendiri kerap terjadi konflik beragama dan akibatnya kesadaran beragamanya tidak mudah pulih. Hal tersebut bisa terjadi jarena faktor traumatik dalam beragama. Sehingga mereka punya kecenderungan melihat orang lain yang berbeda sebagai ancaman.

“Itulah yang sering disebut dengan faktor traumatik di dalam beragama, yang kemudian melahirkan sikap destrifasi relatif, selalu reaktif, konfrontatif di dalam melihat persoalan,” ujarnya dalam dalam Seminar Nasional Memperingati Haul ke-1 KH. Salahuddin Wahid.

Traumatik ini, lanjut Haedar, tidak hanya disebabkan karena konflik, tapi juga karena kegagalan-kegagalan umat Islam di masa lampau. Sehingga melahirkan generasi baru yang memendam dendam generasi terdahulu yang gagal. Hal ini sering terjadi dan bahkan menjadi bagian dari etos perjuangan, membangkitkan kejayaan masa lalu yang gagal.

Faktor lain yang memperngaruhi, yakni adanya perebutan kepentingan (politik) yang sangat kuat. Saat orang sudah bisa bersatu dengan adanya keragaman tetapi di bujuk rayu oleh kekuasaan maka yang terjadi perpecahan hingga permusuhan. Jika gesekan semacam ini selalu terjadi dan membesar terbentuklah sikap menjadi ekstrim, eksklusif, dan intoleran.

“Jika sudah seperti ini sulit bagi kita untuk keluar dari jebakan-jebakan fanatisme buta,” tegasnya.

Kemudian, Haedar mengungkapkan karakter sosiologis masyarakat Indonesia. Yakni, moderat. Dahulu saat mayoritas masyarakat Indonesia beragama Hindu, Islam hadir dengan damai tanpa kekerasan atau peperangan. Maka, proses masuknya Islam itu adalah proses moderasi yang ada dalam masyarakat Indonesia.

The post Pemahaman Agama yang Tidak Tepat Menyebabkan Fanatisme Buta appeared first on Cahaya Islam Berkemajuan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Gulir ke Atas