Belajar Kesiap-tangguhan Bencana dari Nabi Yusuf as

MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA– Indonesia sebagai negara yang berada di atas cincin api dunia menjadi negara yang rentan dan memiliki potensi bencana tinggi. Sehingga penting untuk banyak belajar kebencanaan dari banyak pihak, termasuk kisah inspiratif dari Nabi Yusuf as.

Budi Setiawan, Ketua Lembaga Penanggulangan Bencana (LPB) PP Muhammadiyah saat dimintai kerterangan pada (29/1) menjelaskan, bahwa manusia Indonesia khususnya, penting untuk menyimak kisah inspiratif dari Nabi Yusuf as saat menghadapi bencana.

Perjalanan hidup Nabi Yusuf as bukan suatu kisah yang tidak saja menunjukkan mukjizat (yang tidak bisa kita tiru), berupa kemampuan menakwilkan mimpi secara tepat. Tetapi juga memberi pelajaran mitigasi kesiap-tangguhan sebelum terjadinya bencana.

Mimpi raja berupa adanya tujuh bulir gandum yang hijau (berisi) dan tujuh bulir gandum yang kosong, serta tujuh sapi yang gemuk dimakan tujuh sapi yang kurus, telah ditakwilkan oleh Nabi Yusuf as, sebagai akan datangnya tujuh tahun musim panen yang melimpah dan berlanjut tujuh tahun musim gagal panen.

Kemudian Nabi Yusuf as, menyampaikan sebuah pemecahan masalah dengan usulan agar jangan semua hasil panen habis dimakan, tetapi hendaknya ada sebagian yang disimpan (¬saving) untuk menghadapi musim gagal panen (paceklik).

“Bahkan Nabi Yusuf as, menawarkan dirinya untuk menjadi bendahara negara, karena mempunyai kemampuan untuk mengatur hal tersebut,” imbuh Budi

Pesan Nabi Yusuf as, adalah sebuah pembelajaran tentang kesiap-tangguhan menghadapi bencana, atau dalam bahasa sekarang adalah mitigasi. Budi menjelaskan, mitigasi adalah serangkaian upaya untuk mengurangi resiko bencana, baik melalui pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan menghadapi ancaman bencana.

“Sehingga dengan mitigasi yang baik, maka kejadian tidak akan menjadi bencana, atau kalau bencana terjadi, maka tingkat dampaknya bisa diturunkan,” katanya

Sedangkan Kesiap-tangguhan adalah keadaan yang menunjukkan kemampuan untuk menghadapi segala sesuatu yang akan dan sedang terjadi. Keadaan kesiap-tangguhan bukan sikap yang muncul secara tiba-tiba, tetapi membutuhkan kesengajaan berlatih, mempersiapkan diri secara bersama-sama, serta membutuhkan seorang atau sekelompok orang yang bisa odo-odo, mengawali yang mungkin akan menghadapi tantangan yang tidak ringan.

The post Belajar Kesiap-tangguhan Bencana dari Nabi Yusuf as appeared first on Cahaya Islam Berkemajuan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Gulir ke Atas