Hadis Nabi Jangan Dipolitisasi untuk Kepentingan Pribadi atau Kelompok

MUHAMMADIYAH.OR.ID, KUDUS — Hadis nabi riwayat Muslim No. 145 yang menjelaskan tentang Islam datang dalam keadaan asing, akan kembali ke asing sering dimanfaatkan untuk melegitimasi pendapat seseorang yang memiliki paham keagamaan ‘nyeleneh’.

Hamim Ilyas, Wakil Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah memaparkan, hadis tersebut sering dimanfaatkan kelompok yang memiliki paham berbeda untuk meligitimasi gerakannya.

“Semakin asing, semakin aneh itu dipandang semakin Islam. Jadi Mukhalafatuhu lil Hawaditsi (tidak menyerupai dengan perkara baru (mahluk-Nya)) yang mestinya untuk Allah, tapi Mukhalafatuhu lil Hawadits itu untuk diri sendiri. Jadi kalau aneh malah kemudian kita anggap Islam,” urai Hamim Ilyas pada (7/2) dalam pengajian yang diadakan oleh Muhammadiyah Kudus.

Menurutnya, model keimanan tersebut membuat seorang memiliki inspirasi untuk menjadi aneh. Fenomena ini yang kemudian menjadi cikal bakal munculnya aliran-aliran ‘nyeleneh’. Maka umat harus diarahkan untuk mendapatkan inspirasi dari keimanan yang jelas, sesuai dengan Islam rahmatan lil alamin.

“Rumusan untuk menjelaskan inspirasi yang jelas itu, istilah yang digunakan adalah dengan Syu’abul iman (cabang-cabang iman),” tuturnya.

Hal ini merujuk pada hadis nabi “al imanu bidh’un wa sab’uuna syu’batan” yang artinya iman itu terdiri dari 77 cabang. Hamim menjelaskan, dari penulusuran ulama terkait dengan hadis tersebut dapat dirangkum menjadi 7 hukum keimanan fungsional.

“Hukum dalam pengertian yang harus diikuti. Sehingga orang yang beriman dalam Islam itu mestinya mengikuti aturan beriman yang ada dalam Islam,” jelasnya.

Di 57 ayat dalam Al Qur’an yang menerangkan tentag iman, selalu digandengkan dengan yang lain. Dan 45 ayat diantaranya iman digandengkan dengan amal saleh. Ia menekankan, bahwa iman dan amal saleh itu bukan hanya ditujukan untuk dirinya sendiri.

Tapi iman dan amal saleh dilaksanakan untuk membuahkan hasil, serta buah dari hasil tersebut adalah hayah thayyibah (kehidupan yang baik). Ibnu Abbas menafsirkan hayah thayyibah dengan rizki yang halal dan kebahagiaan, sementara Ali bin Abi Thalib menafsirkannya dengan kepuasan hidup.

Dari itu, ulama salaf dalam menjelaskan hayah thayyibah ukurannya ada tiga, yaitu rizki yang halal, kepuasan, dan kebahagiaan hidup. Tiga ukuran ini menurut Hamim Ilyas sudah mencakup ukuran yang besar.

The post Hadis Nabi Jangan Dipolitisasi untuk Kepentingan Pribadi atau Kelompok appeared first on Cahaya Islam Berkemajuan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Gulir ke Atas