Muhammad Muqoddas, Kenangan dari Seorang Aktivis

Oleh: Iwan Setiawan

Dosen Unisa Yogyakarta, Sekretaris KOKAM Nasional

Mengenang sosok ulama sebagai ibrah kehidupan di masa kini perlu dilakukan. Bagaimana tidak, arus informasi yang menyerbu kita di era “dunia yang berlari” ini menjadikan kita kesulitan menyaring, mana berita sampah dan mana berita yang bermanfaat. Ketika ada kisah yang dituliskan untuk mengenang sosok ulama, tentu bisa menjadi oase yang meneduhkan, kisah yang menyejukkan, diantara bersliweran kabar yang kita baca setiap hari. Tulisan mengenai Pak Muhammad Muqoddas coba saya sajikan. Sosok ulama adalah pewaris para nabi dan membaca kisahnya tentu kita akan menemukan jejak-jejak kebaikan yang layak menjadi suri tauladan. 

Mendengar nama Pak Muhammad Muqoddas bagi saya bukanlah sosok yang asing, walau tidak mengenal beliau secara pribadi. Saya tahu Pak Muhammad Muqoddas adalah Ketua PP Muhammadiyah yang membidangi tabligh. Kawan-kawan saya di Angkatan Muda Muhammadiyah Nitikan sering mengundang beliau mengisi pengajian di Nitikan. Kawan-kawan mengenalnya sebagai mubaligh yang tegas. Ketika mengisi pengajian suaranya lantang dan saat ada yang bertanya dijawab dengan tegas. Kawan-kawan di Nitikan juga mengenal keluarga Muqoddas yang lain, yaitu Fahmi Muqoddas dan Busyro Muqoddas. Kakak dan adik Muhammad Muqoddas ini tinggal di Nitikan.

Sosok yang Tegas dan Bijaksana

Berkaitan dengan ketegasan, pernah kawan saya mengundang Pak Muhammad Muqoddas mengisi pengajian wali murid SD Muhammadiyah di Kota Yogyakarta. Isi pengajian sangat menarik, jamaaahnya adalah guru dan wali murid yang tentu beragam basic keagamaannya. Saat beliau mengupas bacaan doa mau makan yang berbunyi “Allahuma Bariklana” itu beliau menyampaikan bahwa hadits “Allahuma Bariklana” itu dhoif atau lemah sehingga tidak bisa menjadi dasar doa untuk makan. Dalam Silsilah Hadits Shohih karya Syaikh Nashirudin Al-Bani memang hadits ini dianggap hadits dhoif. Lalu Muhammad Muqoddas menyampaikan pengganti “Allahuma Barilkana” cukup membaca “Bismillahirrahmanirrohim” dan doa ini shohih. Tentu beliau menyampaikannya dengan lugas, tegas dan jelas.

Setelah pengajian selesai kasak-kusuk terjadi, para orang tua murid dan guru-guru gelisah. Bacaan Allahuma Bariklana sudah mendarah-daging, sehingga ketika mendengar bahwa bacaan itu kurang tepat, mereka takut apakah yang mereka lakukan bertahun-tahun itu salah dan berdosa. Maka untuk meredam kegelisahan itu, beberapa hari kemudian kawan saya diutus untuk menemui Pak Muhammad Muqodas dan menyampaikan keselisahan guru dan orang tua murid. Saat mendengar aduan tersebut Pak Muhammad Muqoddas tertawa dan beliau menyampaikan kalau Allahuma Bariklana sudah biasa diajarkan ke siswa, tidak apa-apa, sambil dijelaskan dan disosialisasikan doa yang lebih sahih. Mendengar jawaban Muhammad Muqoddas itu maka kawan saya menjadi plong. Di balik ketegasan beliau, ada sifat kearifan.

Pertemuan di Koperasi Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga

Pertama ketemu muka dengan Pak Muhammad Muqoddas saat saya kuliah di IAIN Sunan Kalijaga, yang kemudian berubah menjadi UIN Sunan Kalijaga. Pak Muhammad Muqoddas adalah dosen Fakultas Adab dan saya mahasiswa Fakultas Tarbiyah, sehingga saya tidak diajar oleh beliau. Saya sering beli buku di Koperasi Mahasiswa (Kopma),  buku-buku yang dijual di Kopma memang kebanyakan buku agama, sehingga saya suka ke sana. Selama tahun 2000-2003 tidak banyak toko buku yang menjual buku-buku agama selengkap Kopma IAIN Sunan Kalijaga.

Suatu waktu saat saya memilih buku di Kopma ada sosok yang saya kenal sedang memilih buku, yaitu Pak Muhammad Muqoddas. Tentu beliau tidak kenal saya. Maka saya menyapa beliau dulu dan mengenalkan nama dan aktivitas saya. Saya mengenalkan diri sebagai aktivis Pemuda Muhammadiyah di Kampung Nitikan. Mendengar nama kampung Nitikan beliau sumringah dan titip salam untuk Pak Busyro Muqoddas (adik beliau). Waktu itu Pak Busyro Muqoddas menjadi ketua PRM Nitikan. Tentu kemudian saat bertemu dengan Pak Busyro Muqoddas, salam dari Pak Muhammad Muqoddas saya sampaikan.

Aktivis Muhammadiyah Harus Bisa Bahasa Arab

Dalam obrolan singkat di Kopma IAIN Sunan Kalijaga, Pak Muhammad Muqoddas merasa senang ada anak muda Muhammadiyah yang kuliah di IAIN. Beliau berpesan agar anak-anak muda Muhammadiyah banyak yang belajar ilmu agama dan menguasai ilmu alat, yaitu bahasa Arab. Pesan ini masih saya ingat sampai sekarang.

Pesan Muhammad Muqoddas agar anak-anak Muda Muhammadiyah bersemangat untuk belajar ilmu Agama dan menguasai bahasa Arab tentu pesan yang mendalam. Mungkin juga refleksi beliau atas perjumpaan dengan berbagai macam anak-anak muda Muhammadiyah. Kalau boleh jujur anak-anak Muda Muhammadiyah yang didaulat sebagai Mubaligh Muhammadiyah sering penguasaan mereka terhadap bahasa Arab kurang menggembirakan. Seperti pemeo yang jamak kita dengar, anak-anak Muda Muhammadiyah menguasai kitab putih dan anak-anak Muda NU menguasai kitab kuning. Di masa sekarang yang terjadi anak-anak Muda Muhammayih masih menguasai kitab putih dan anak-anak Muda NU menguasai kitab putih dan kitab kuning.

Setelah saya mendapat pesan dari Pak Muhammad Muqoddas tentang perlunya belajar Bahasa Arab, maka saya mulai belajar Bahasa Arab dengan serius. Saat itu saya masih menempuh semester 2. Di Fakultas Tarbiyah harus menempuh Bahasa Arab 1 sd 3 dan nilai Bahasa Arab 1 kurang menggembirakan. Maka saya mengajak beberapa teman, yang kebetulan anak-anak muda yang berlatar keluarga Muhammadiyah untuk ikut kursus Bahasa Arab. Maka kami bersepakat untuk mulai mencari tempat kursus Bahasa Arab di Jogja.

Kami beberapa kali mencari info akhirnya ketemu kursus Bahasa Arab di Pesantren Al Muhsin, Krapyak. Pesantren Al-Mushin masih keluarga Pesantren Krapyak. Kami ambil kursus pagi, pas tidak ada jam kuliah. Maka kami rutin tiga kali seminggu kursus Bahasa Arab selama 3 bulan. Setelah 3 bulan berjalan dan ternyata hasilnya kurang memuaskan. Belajar Bahasa Arab butuh ketekunan tersendiri, butuh jerih payah untuk mempelajarinya. Kami ditawari untuk mengambil kursus Bahasa Arab tingkat lanjut, tapi ada kawan yang menyerah, akhirnya kami tidak melanjutkan kursus di Al-Muhsin.

Akhirnya saya sendirian harus mencari kursus untuk belajar Bahasa Arab. Ada info kursus Bahasa Arab di Pesantren Nurul Ummah Kotagede. Yang menyelenggarakan bukan resmi pesantren, tapi salah satu mantan santri yang pinjam ruangan kelas di Pesantren Nurul Ummah. Maka saya ikut mendaftar dan kursus dilaksanakan malam hari, dua kali seminggu. Kawan-kawan yang dulu ikut kursus saya ajak, tetapi tidak mau, mungkin karena malam, mereka ada yang perempuan. Di Nurul Ummah saya belajar Bahasa Arab mulai dari dasar lagi dan metode pembelajarannya lebih mudah. Setelah beberapa bulan ikut kursus ada perkembangan terhadap penguasaan Bahasa Arab, walau masih sedikit.

Setelah mengikuti 2 kursus Bahasa Arab dengan kesulitan mempelajari Bahasa Arab, saya baru sadar bahwa penguasaan bahasa salah satunya adalah masalah jam terbang. Kalau pun tidak pintar-pintar amat, bila terus menerus digembleng, ilmu yang dipelajari akan menempel didalam otak kita. Saya yang lulusan perguruan Muhammadiyah dari TK sampai SMA merasakan pelajaran Bahasa Arab diajarkan sangat singkat, sehingga penguasan Bahasa Arab siswa Muhammadiyah sangat kurang. Tentu saya memahami, saya masuk ke sekolah umum Muhammadiyah, bukan pesantren Muhammadiyah, sehingga pelajaran Bahasa Arab menjadi minim.

Kepergian Seorang Teladan

Dari pertemuan yang singkat dengan Pak Muhammad Muqoddas saya jadi sadar bahwa seorang aktivis juga perlu memiliki ilmu-ilmu alat untuk bisa tampil di depan publik. Bahasa Inggris dan Bahasa Arab adalah ilmu alat yang penting untuk dikuasai. Pak Muhammad Muqoddas yang lulusan Pesantren Gontor tentu mengusai dengan baik, khususnya Bahasa Arab. Beliau bisa kuliah di Arab Saudi dan menjadi Dosen Bahasa Arab di Fakultas Adab UIN Sunan Kalijaga tentu karena penguasaan Bahasa Arab yang baik.

Di akhir hayatnya Pak Muhammad Muqoddas sering keluar masuk Rumah Sakit, beliau menderita diabetes, persis seperti bapak saya yang juga menderita diabetes. Di akhir hayatnya, bapak saya juga keluar masuk rumah sakit. Keluarga tentu harus siap dengan kondisi yang terjadi. Allah telah mencarikan jalan yang terbaik buat Pak Muhammad Muqoddas dan bapak saya. Semoga Pak Muhammad Muqoddas dilapangkan jalannya di akhirat dan anak-anak Muda Muhammadiyah dapat meneladani kebaikan-kebaikannya.

Editor: Fauzan AS

The post Muhammad Muqoddas, Kenangan dari Seorang Aktivis appeared first on Cahaya Islam Berkemajuan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Gulir ke Atas