Selama Masih Ada Rasa Benci Artinya Kita Belum Bersikap Moderat

MUHAMMADIYAH.OR.ID, JAKARTA – Jika ingin menjadi moderat maka perlu mengembangkannya dari sikap jiwa. Karena, moderat itu didasari oleh sikap jiwa atau kepribadian diri.

“Jangan sampai kita merasa benar tapi ke orang lain benci, itu kan nggak bisa. Kita merasa benar, ke orang lain harus penuh kasih sayang,” kata Dadang Kahmad, saat dihubungi redaksi muhammadiyah.or.id, Kamis (4/2).

“Kita ini kan berdoa juga Ya Allah jangan ada benci di hati kami terhadap orang-orang beriman. Saya kira moderasi di mulai dengan rasa tidak benci kepada orang lain, namun rasa kasih sayang kepada orang lain,” sambungnya.

Menurut Dadang, selama kita merasa benar sendiri dan menyebut orang lain salah itu menunjukkan sikap tidak moderat. Apalagi jika kita berpikiran ingin mereka dihilangkan dan dihancurkan. Sikap itu justru tidak moderat dan terkesan memaksakan kehendak. Maka sikap tersebut jelas radikal menurutnya.

Mengapa begitu? Karena radikal terkesan memaksakan kehendak sedangkan yang disebut moderat atau toleran itu kita sabar dan menahan diri. Orang-orang sabar itulah yang akan menjadi moderat.

“Jangan sampai rencana kita menghilangkan radikalisme dengan radikal, jangan kita juga menghilangan intoleran dengan intoleran lagi, saya kira tidak bagus itu,”ujar Ketua PP Muhammadiyah yang membidangi media ini.

Jelas Al-Qurán mengajarkan kita harus bersikap baik kepada siapa saja termasuk orang yang memusuhi. Seperti halnya nabi Muhammad saw dalam dakwahnya.

Maka, lanjut Dadang, orang yang moderat itu biasanya kersikap tenang dan kalem menghadapi masalah.

Orang-orang moderat akan membuat media sosial menjadi sesuatu yang mencerahkan dan membicarakan kebenaran.

The post Selama Masih Ada Rasa Benci Artinya Kita Belum Bersikap Moderat appeared first on Cahaya Islam Berkemajuan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Gulir ke Atas