Tiga Kriteria yang Membolehkan Guru Non Muslim Mengajar di Madrasah

MUHAMMADIYAH.ID, JAKARTA – Eti Kurniawati, seorang guru mata pelajaran geografi menarik perhatian jagad maya Indonesia setelah diangkat menjadi pengajar di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Tana Toraja, Selasa (26/1).

Pengangkatan tersebut menarik perhatian sebab Eti merupakan pemeluk agama Kristen. Menanggapinya, Ketua PP Muhammadiyah Dadang Kahmad menganggap pengangkatan tersebut tidak masalah sepanjang memenuhi tiga unsur: pertama tempat, kedua kedaruratan, dan ketiga tidak mengajar pelajaran agama Islam.

Menurut Dadang, jika suatu daerah itu merupakan daerah dengan jumlah umat muslim yang minoritas dan tidak ada tenaga pengajar muslim lainnya, maka layak untuk menempatkan guru yang berbeda agama di madrasah Islam dengan catatan tidak mengajar pelajaran agama.

Sebaliknya, jika suatu daerah itu merupakan daerah dengan penganut Islam mayoritas, maka pengangkatan tersebut hendaknya dipertimbangkan kembali.

“Logikanya muslim mayoritas 80 persen lebih, kenapa mesti memakai guru beragama lain kalau masih banyak yang beragama Islam. Kecuali di daerah minoritas muslim yang gurunya terbatas,” jawabnya, Senin (1/2).

Tana Toraja sendiri merupakan daerah mayoritas umat Kristiani. Publikasi data dari Badan Pusat Statistik tahun 2020 menyebutkan bahwa umat Islam hanya mencapai 12,04%.

Dikutip secara terpisah, Eti Kurniawati yang akan bertugas mengajar di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Tana Toraja menyatakan akan menyesuaikan dengan budaya tempatnya mengajar dengan memakai pakaian lengan dan rok panjang.

The post Tiga Kriteria yang Membolehkan Guru Non Muslim Mengajar di Madrasah appeared first on Cahaya Islam Berkemajuan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Gulir ke Atas