Sejarah Pendirian TVMU, Berawal dari Televisi Rumah Sakit

Oleh: Muhammad Jamaluddin Ahmad

Wakil Ketua LPCR PP Muhammadiyah

Sekitar tahun 2012 saya diundang memberikan pengajian pada acara Pelantikan Pengurus Ranting Muhammadiyah dan Ranting ‘Aisyiyah di salah satu Ranting yang baru saja berdiri di Salah satu kelurahan di Kabupaten Kebumen. Yang unik dan menarik dari pelantikan ini karena hampir semua pengurusnya adalah pamong desa di kelurahan tersebut. Ketua Ranting adalah Bapak Lurah /Kepala Desa yang akan purna tugas. Ketua Aisyiyah adalah Ibu lurah. Peresmian Ranting dan pelantikan pengurus sangat meriah karena ada acara pawai keliling kelurahan sekitar empat kilometer. Seluruh ambulan milik Rumah Sakit Muhammadiyah di Kebumen dan sekitarnya tampil. Seluruh pelajar dan mahasiswa muhammadiyah dari seluruh Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Gombong tumpah Ruah. Tampil juga Marching Band SMP Muhammadiyah Gombong dan yang unik adalah penampilan barisan kuda yang dapat menari lengkap dengan grup musik pengiring.

Perhelatan tersebut memang terasa sangat meriah dan memiliki syiar dakwah yang luar biasa. Teman-teman dari RS PKU Muhammadiyah Gombong mendukung penuh acara tersebut. Sayangnya, acara yang unik tersebut tidak ada peliputan dari media yang dimiliki oleh Persyarikatan Muhammadiyah. Padahal Muhammadiyah di Kebumen dan Gombong sangat maju dan dinamis. Muhammadiyah di Kebumen dan Gombong punya banyak rumah sakit PKU dan STIKES yang berkualitas. Namun “lumpuh” jika berkaitan dengan publikasi media atau yang sering dikenal di Muhammadiyah dengan konsep “dakwah media persyarikatan.”

Setelah pengajian, saya dipanggil Ustaz Professor Daelami yang waktu itu hadir sebagai Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Tengah yang membidangi LPCR juga sebagai BPH STIKES Muhammadiyah Gombong. Profesor Daelami berkata pada saya, “hai Anda orang Pimpinan Pusat, apakah mereka yang di Pimpinan Pusat itu tidak tahu dan tidak mikir kalau di daerah-daerah banyak sekali warga Muhammadiyah yang keluar dari Muhammadiyah karena setiap hari nonton siaran TV dakwah non-Muhammadiyah yang banyak muncul di TV satelit? Saya dipanggil ‘orang pimpinan pusat’ karena pada waktu itu saya adalah wakil ketua LPCR Pimpinan Pusat Muhammadiyah (PPM) sekaligus salah seorang direksi Rumah Sakit Islam Jakarta Cempaka Putih (RSIJ CP) sebagai Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) PPM. Prof. Daelami menambahkan bahwa banyak warga Muhammadiyah yang setiap hari mendengarkan siaran dakwah di berbagai kanal radio dakwah yang dikelola organisasi non-Muhammadiyah. Banyak di antara mereka yang kemudian lebih tertarik dakwah organisasi-organisasi tersebut dan akhirnya justru tidak tertarik pada konten dakwah Muhammadiyah. Beliau waktu itu mengungkapkan kekecewaan terhadap pimpinan pusat yang kurang tanggap terhadap dakwah media dan media dakwah baik di televisi dan radio.

Kesedihan Prof. Daelami waktu itu ditumpahkan ke saya karena saya dianggap sebagai orang pimpinan pusat. Padahal saya hanya pengurus majelis dan juga bukan pengurus Majelis Pustaka dan Informasi PPM. Namun apa yang beliau sampaikan memang benar bahwa waktu itu Muhammadiyah sangat abai atau lalai menggarap dakwah media dan media dakwah khususnya radio dan Televisi.

Apa yang Prof. Daelami rasakan juga saya rasakan. Sedih memang bahwa Muhammadiyah yang dinilai maju dan modern namung sangat ketinggalan di dakwah media dan media dakwah televisi, radio juga dakwah di jagat digital. Ketika saya “dimarahi” Prof Daelami, sebenarnya dalam diam kami sudah satu tahun mendirikan televisi dan radio di RSIJ CP yang waktu itu kami beri nama RSIJ TV. Alhamdulillah TV ini pada tahun 2012 jadi juara pertama PERSI AWARD dan mewakili indonesia pada ajang pemberian Award Rumah Sakit se-Asia di Thailand. Untuk menjawab marah dan kecewanya Prof Daelami, akhirnya Prof. Daelami saya undang untuk ceramah dan memberikan tausiyah di RSIJ CP sekaligus Shooting materi pengajian dari beliau hingga enam episode. Saya juga minta beliau untuk mengisi pengajian SIAP (Study Islam Ahad Pagi) di ranting kami di PRM Kukusan Satu Beji Depok Jabar setiap ahad pagi. Prof. Daelami terharu dan bahagia melihat bahwa RSIJ sudah merintis dakwah melalui televisi yang dikelola dengan baik. Saya memang sedih dan kecewa karena Muhammadiyah waktu itu tidak serius menggarap ijtihad, tajdid dan jihad untuk urusan dakwah media televisi dan radio serta jagat digital. Namun tidak boleh berhenti meratapi keadaan, tapi harus bergerak dan melakukan sesuatu untuk menghadirkan solusi.

TV RSIJP CP bermula pada tahun 2009. Waktu itu saya gulirkan isu tentang pendirian televisi kepada sesama direksi RSIJ CP. Alhamdulillah, perlahan teman-teman direksi menyambut baik ide tersebut dan mendukung pendirian televisi di RSIJ CP. (Terimakasih pada perlu diungkap langsung pada dokter Yusuf Saleh Bazed, dokter Prastowo, Ibu Ning dan Pak Eko Priyono). Akhirnya, sekitar tahun 2010 rencana pendirian TV Rumah Sakit dimulai dan selesai pada tahun 2011.

Ketika RSIJ CP menjadi tuan rumah pengajian Ramadan PPM untuk pertama kalinya dalam sejarah Muhammadiyah ada siaran langsung yang bisa disaksikan langsung oleh warga Muhammadiyah di berbagai daerah. Bahkan kakak saya di Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Gaden Trucuk Klaten mengadakan acara nonton bareng di Ranting. Yang lebih membahagiyakan lagi, ketika Prof. Din Samsudin Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah saat itu yang sedang sakit di RSIJ CP kaget menyaksikan ada Channel RSIJ TV di kanal televisi yang ada di rumah sakit. Hari itu saya dipanggil beliau dan ditanya tentang RSIJ TV. Inti dari jawaban saya ke beliau bahwa RSIJ TV benar-benar stasiun televisi yang bila didukung dana sudah siap siaran dengan model platform apapun. Bisa melalui media satelit, bisa menjadi televisi teristerial, bisa menjadi televisi digital dan lain sebagainya. Prof. Din lalu bertanya pada saya, “apakah mas Jamaludin sanggup mendirikan TV untuk Muhammadiyah?” Saya jawab ” insya Allah sanggup.” Prof. Din kemudian berkata, ” kalau sanggup tolong segera buatkan proposal pendirian TV Muhammadiyah, dan seminggu lagi setelah saya pulang dari Malaysia kita rapatkan di Kantor PP Muhammadiyah”.

Alhamdulillah Prof. Din benar benar serius. Setelah itu rapat dilakukan berkali kali rapat. Melalui SK PP Muhammadiyah saya diamanahi sebagai Sekretaris pendiri dan Prof. Din sebagai Ketua Pendiri. Melalui rapat dan perjalanan yang berliku, naik dan turun, tarik dan ulur, cemas dan optimis akhirnya lahirlah televisi milik Muhammadiyah yang diberi nama TvMU persis seperti yang kami usulkan dalam proposal.

Sebuah perjalanan sudah dimulai, sebuah proses terus berlangsung. Memang masih banyak kekurangan dari kriteria TV dakwah  yang ideal dan sehat. Tapi kita bersyukur sudah merintis. Perbaikan untuk peningkatan kualitas harus terus dilakukan. Saya berharap televisi yg dimiliki oleh Muhammadiyah tidak hanya satu dan berhenti sekedar TvMu. Televisi Muhammadiyah harus hadir sebanyak-banyaknya dengan berbagai nama yang berbeda dan keunikan masing masing. Bila ada AUM, entah Rumah Sakit atau Perguruan Tinggi Muhammadiyah yang mampu mendirikan dan menyelenggarakan siaran TV silahkan. Bila ada Ranting, Cabang, PDM atau PWM sanggup mendirikan TV, silahkan. Yang penting kita berjejaring dan membangun jaringan. Warga Muhammadiyah sangat merindukan sajian dakwah yang berkualitas melalui televisi yang dikelola dan dimiliki oleh Muhammadiyah maupun warga Muhammadiyah. Demikian juga dengan media radio. LPCR PP Muhammadiyah telah menginisiasi pertemuan bertajuk Kopi Darat Para Penggiat dan Pengelola Radio Muhammadiyah dan telah melahirkan JARIMU (Jaringan Radio Muhammadiyah). Kita juga wajib serius dakwah di kanal YouTube, Facebook, Instagram dan lain sebagainya.

Semoga pada abad kedua Muhammadiyah ini kita bisa menjadikan dakwah media dan media dakwah di TV, Radio, Youtube dan dunia maya (media daring) juga menjadi bagian penting dari ijtihad, tajdid dan jihad kita. Terimakasih kepada tim kami, teman teman Prodebee yang bersabar bersama kami melahirkan TvMu dan sampai sekarang terus membersamai kami (bermimpi) untuk melahirkan dakwah muhammadiyah melalui: kanal kesehatan, kanal perempuan, kanal khusus anak-anak, kanal khusus dakwah dan seterusnya.

Pada 2013 dan 2014 saya pernah presentasi di Majelis Tabligh PP Muhammadiyah, PWM DIY dan Juga di PP Muhammadiyah Yogyakarta supaya Muhammadiyah memiliki dan menekuni dakwah media informasi dalam bentuk kanal dakwah. Waktu itu saya mengusulkan nama “Dakwah Channel” yang berfungsi sebagai rumah produksi pembuatan video islami dalam berbagai varian model yang akan memasok seluruh kebutuhan  media yang ada di Muhammadiyah baik untuk TV, Youtobe dan media sosial lainnya serta untuk memasuki tontonan dan tuntunan islami di luar Muhammadiyah. Sayang, waktu itu belum dipahami dan diterima secara memadai. Akibatnya, ketika perorangan dan lembaga lembaga kecil sudah lari jauh di bidang ini, Muhammadiyah baru akan memulai. Yakinlah akan tiba saatnya kita sadar penting dakwah media dan media informasi.

Semoga suatu saat nanti Muhammadiyah mampu menjadi yang terbaik dan terunggul dalam mengenggam media informasi dunia. Jadikan dakwah media informasi sebagai AUM yang baru, sama pentingnya dengan mendirikan sekolah, rumah sakit, dan panti asuhan.

*Catatan penulis: tulisan lama ini saya unggah ulang karena pandemik Covid-19 ini akhirnya menyadarkan seluruh elemen Muhammadiyah untuk bersungguh sungguh  mengelola media dakwah dan dakwah  media. Kadang kita baru sadar setelah dipaksa oleh keadaan. Semoga Allah meridai.

*Catatan editor: artikel ini diunggah pertama kali pada Ahad 17 Desember 2017 dengan judul “Dakwah Media dan Media Dakwah di Muhammadiyah.” Artikel telah disunting dan diterbitkan kembali dalam rangka edukasi.

Editor: Fauzan AS

The post Sejarah Pendirian TVMU, Berawal dari Televisi Rumah Sakit appeared first on Cahaya Islam Berkemajuan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Gulir ke Atas