Mata Air Keteladanan Tokoh Muhammadiyah

MUHAMMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA – Ketokohan Panglima Besar TNI Jenderal Soedirman tidak bisa lepas dari aktivitas di Muhammadiyah dan Hizbul Wathan, aktivitas pengabdian awalnya ia mulai saat menjadi guru di HIS (Hollandsch Indlandche School) Muhammadiyah di Cilacap.

Bahkan kepemimpinan Jenderal Soedirman seperti disebutkan Dahnil Anzar Simanjuntak, Juru Bicara Menhan RI telah terbentuk saat Seodirman muda aktif di Kepanduan Hizbul Wathan (HW).

“Dalam buku yang ditulis Yudhi Latief berjudul (Mata Air Keteladanan: Pancasila dalam Pebuatan,2014) Jenderal Soedirman menjadi salah satu ikon dari mata air keteladanan,” sebut Dahnil Anzar Simanjuntak dalam Dialog Kebangsaan Kwarpus HW, pada Ahad (24/1/2021).

Dialog Kebangsaan yang diselenggarakan sebagai momentum memperingati hari lahir Jenderal Soedirman pada 24 Januari sekaligus acara Para Tanwir ke2 Hizbul Wathan (HW), Dahnil Azhar menyebut ketokohan Jenderal Soedirman menjadi mercusuar atau simbol keberanian, loyalitas dan kepemimpinan bangsa.

“Banyak catatan-catatan sejarah termasuk ditulis oleh Yudi Latief tentang berbagai tokoh bangsa salah satunya adalah Jenderal Soedirman. Merangkum semua aktivitas Soedirman dan seluruh proses kepemimpinan sampai tahap-tahap memimpin TNI diinspirasi oleh Hizbul Wathan (HW),” sebut Dahnil Azhar.

Sebelum menjadi Panglima Besar TNI, habit (baca: kebiasaan) Jenderal Soedirman yang dibangun di Perang Gerilya bahkan sudah ia lakukan pula di Kepanduan Hizbul Wathan.

Mantan Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah ini juga menyebut Hizbul Wathan (HW) telah melahirkan  banyak tokoh bangsa adalah salah satu bentuk kecerdasan Kiai Dahlan yang awalnya terinspirasi dari Patvinder di Mangkunegaran bernama Javaanche Padvinders Organisatie (JPO).

Inspirasi ini, kata Dahnil Azhar memberikan kecerdasan dan gerakan positif bagi anak bangsa berikutnya. “Kiai Dahlan itu karakternya sangat terbuka dan inklusif, artinya membuka diri dan beradaptasi serta mengadopsi yang dianggap baik bahkan nilai lain dari peradaban lain termasuk Patvinder,” kata Dahnil Anzar.

Sehingga lanjut Dahnil, kehadiran Hizbul Wathan (HW) menjadi satu kekuatan nasional yang luar biasa. Artinya Kiai Dahlan sejak mendirikan Hizbul Wathan sebagai gerakan patriotik anak muda sehingga mampu menumbukan nasionalisme dan patriotisme yang sejalan dengan nilai-nilai Islam.

“Nasionalisme dan keindonesiaan yang dikembangkan Kiai Dahlan melalui Kepanduan Hizbul Wathan (HW) itu punya tarikan nafas yang sama dengan keislaman,” sebut Dahnil.

The post Mata Air Keteladanan Tokoh Muhammadiyah appeared first on Cahaya Islam Berkemajuan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Gulir ke Atas