Umat Islam Jangan Kagetan, Perbedaan adalah Sunnatullah

MUHAMMADIYAH.OR.ID, PALANGKARAYA – Ihwal mengapa ada banyak ragam organisasi Islam, menurut Ketua Lembaga Penelitian Pengembangan PP ‘Aisyiyah (LPPA), Siti Syamsiyatun, hal itu disebabkan karena cara memahami teks kegamaan berbeda.

Ia menjelaskan, hal itu menyebabkan meskipun pedoman dan sumber rujukannya sama tapi dalam praktik bisa berbeda. Dalam tubuh umat Islam kekinian, dirunut dari metode pendekatan teks dapat diklasifikasi menjadi tekstual, moderat-progresif, dan liberal.

“ini juga sangat berkaitan dengan tantangan, kebutuhan dan sumber daya yang dimiliki oleh organisasi itu,” ungkapnya dalam acara Penguatan Gerakan ‘Aisyiyah Berbasis Islam dan Perempuan Berkemajuan pada (17/1).

Karenanya, antara satu dengan yang lain anggota organisasi keislaman perlu memahami berbagai macam organisasi keagamaan. Seupaya mempunyai wawasan bahwa, ada keragamaan umat Islam. Sehingga timbul sikap saling menghargai, tidak saling mengkafirkan, menyesatkan, dan tetap menjaga ukhuwah Islamiyah.

Siti Syamsiyatun menguraikan, model pemahaman literal adalah cara memahami teks dengan apa adanya yang tertulis di naskah, dan kurang mempertimbangkan aspek tujuan etis/moral dari suatu ayat. Serta kurang mempertimbangkan perkembangan dan tantangan zaman.

Sementara itu, pendekatan moderat-progresif adalah pendekatan yang cenderung mempertimbangkan berbgai aspek, termasuk kemajuan ilmu pengetahuan yang relevan tanpa harus meningalkan basis teks yang ada.

Dan, pendekatan liberal adalah pemahaman agama yang cenderung mendahulukan pertimbangan rasional manusia (homosentrisme) dari pada berpijak pada teks/naskah yang tertulis. Menurutnya dalam tradisi Islam, pendekatan Liberal ini anak kandung dari aliran Mu’tazilah dari paham-paham Qodariyah.

Ketiga model pendekatan tersebut merupakan simplikasi, karena dari ketiganya sebetulnya masih banyak gradasi cara pemahaman teks.

Posisi Muhammadiyah dalam memahami teks dilakukan secara komprehensif, kolektif/jama’I, independen, mempertimbangkan tetapi tidak terikat dengan aliran kalam/teologi, madzhab fikih dan thariqat shufiyah manapun. Sehingga keislaman Muhammadiya beridentitas Islam Moderat-Berkemajuan (Wasathiyyah).

“Kita sebagai warga Muhammadiyah harus mengikuti manhaj Muhammadiyah, mengikuti sistem berfikir, sistem hidup, aturan-aturan yang dipahami oleh Muhammadiyah,” tegasnya.

The post Umat Islam Jangan Kagetan, Perbedaan adalah Sunnatullah appeared first on Cahaya Islam Berkemajuan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Gulir ke Atas