Berdakwah di Pedalaman, Setahun Belum Tentu Bisa Mengajarkan Salat

MUHAMMADIYAH.ID, JAKARTA – Bagi Muhammadiyah, perempuan memiliki gerak yang setara dengan laki-laki. Itulah semangat yang diajarkan oleh Kiai Ahmad Dahlan.

Tidak hanya dai-dai Muhammadiyah, ibu-ibu ‘Aisyiyah juga aktif dalam melakukan dakwah bagi komunitas masyarakat pedalaman di berbagai wilayah terpencil di Indonesia.

Dalam pengajian Majelis Tabligh PP ‘Aisyiyah & Majelis Tabligh PP Muhammadiyah, Jumat (15/1) Daiyah ‘Aisyiyah asal Banggai, Sulawesi Tengah Sri Moxsam Djalamang menuturkan bahwa dalam berdakwah di pedalaman, tidak bisa terburu-buru mengajarkan agama, tetapi harus meraih kepercayaan dan hubungan batin dengan masyarakat terlebih dahulu.

Menurut Sri, hal itu patut diperhatikan karena masyarakat suku pedalaman terisolir dari dunia luar dan menutup diri. Mereka merasa sudah mapan dengan kebiasaan yang dilakukan turun temurun sehingga sangat sensitif jika diajak bicara tentang kebiasaan dan kepercayaan baru.

“Yang pertama adalah bagaimana mereka bisa menerima kehadiran kita. Kunci yang paling pokok adalah bahasa,” kisahnya.

Sri Moxsam Djalamang menceritakan suka duka berdakwah di pedalaman Sulawesi Tengah, tepatnya dakwah untuk suku Tau Taa Wana di kabupaten Morowali Utara.

Karena Muhammadiyah bukan hanya gerakan dakwah Islam, tapi juga gerakan kemanusiaan menurut Sri ‘Aisyiyah memperhatikan pengembangan taraf hidup seluruh masyarakat pedalaman tanpa membedakan agama dan kepercayaannya.

Melalui semangat Al-Ma’un, Sri menceritakan bahwa ‘Aisyiyah berusaha secara rutin untuk membawakan bantuan pokok dan pendampingan masyarakat setiap kurun waktu tertentu.

Usaha yang dirintis sejak 2015 itu menurutnya terus dilakukan meski melalui medan yang sulit, seperti menyeberangi lima sungai besar seperti yang terjadi di Batui Selatan.
Akan tetapi Sri bersyukur setelah dibangunnya jembatan gantung oleh MNC Peduli yang membuat dakwah di pedalaman lebih mudah. Jika sebelumnya datang tiga pekan sekali, sekarang ‘Aisyiyah datang setiap pekan.

Menggandeng berbagai majelis, organisasi otonom dan lembaga zakat, ‘Aisyiyah mulai mendirikan sekolah anak (PAUD) yang juga berfungsi sebagai pusat pemberdayaan masyarakat setempat.

Meski pelan-pelan mengajarkan akidah, Sri mengaku tidak terburu-buru untuk mengajarkan ibadah mahdah kepada masyarakat pedalaman sebelum unsur kemanusiaan mereka terpenuhi.


“Untuk merebut hati mereka. Ketika kita bisa diterima, maka baru kita bisa menyampaikan (dakwah),” jelas Sri. (afn)

The post Berdakwah di Pedalaman, Setahun Belum Tentu Bisa Mengajarkan Salat appeared first on Cahaya Islam Berkemajuan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Gulir ke Atas