Peran Perempuan ‘Aisyiyah dalam Penanggulangan Bencana

MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA– Lembaga Penanggulangan Bencana (LPB)/Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC), menilai kegiatan Penanggulangan Bencana dimulai dari pra, saat, dan pasca membutuhkan sumberdaya yang luar biasa besar.

Oleh karena itu LPB/MDMC tidak bisa melakukan tugas Penanggulangan Bencana secara maksimal tanpa mendapat dukungan dari elemen Muhammadiyah yang lain. Karenanya diperlukan koordinasi dalam kerangka One Muhammadiyah One Response (OMOR).

Menyikapi hal tersebut, Lilik Tri Prihantini, Ketua Lembaga Lingkungan Hidup dan Penanggulangan Bencana (LLHPB) PW ‘Aisyiyah Jawa Tengah pada (10/1) mengatakan, sejak dibentuknya program OMOR, LLHPB PW ‘Aisyiyah tidak lagi ‘mengibarkan benderanya’ sendiri.

Sejak bergulirnya program OMOR, penanggulangan bencana yang dilakukan oleh PW ‘Aisyiyah kemudian bersinergi dengan Muhammadiyah atau MDMC. Sinergitas yang dilakukan dengan MDMC memberikan pengetahuan yang mendalam kepada LLHPB ‘Aisyiyah tentang kebencanaan.

“Kalau ada bencana itu langsung larinya ke dapur umum, tetapi kemudian setelah mengetahui banyak hal yang bisa dilakukan selain dapur umum, maka kemudian kita melakukan pelatihan-pelatihan, seperti menejemen bencana,” tuturnya

Relawan Muhammadiyah adalah Seluruh Warga Persyariktan

Secara garis besar, job desk yang dikerjakan oleh LLHPB ‘Aisyiyah meliputi psikososial, dapur umum, dan SAR. Meski tidak semua PD ‘Aisyiyah harus ada LLHPB, namun LLHPB ‘Aisyiyah diwajibkan ada bagi daerah-daerah yang memiliki potensi bencana yang besar.

Sementara itu, Nabiul Umam Eko Sakti, Ketua MDMC PW Muhammadiyah Jateng menyambung, penanganan bencana yang dilakukan Muhammadiyah bukan hanya terkait tanggap darurat, tapi Muhammadiyah juga memikirkan sebelum adanya bencana dan pasca bencana.

Menurut Nabiul Umam, relawan Muhammadiyah adalah seluruh anggota Muhammadiyah yang bisa digerakan untuk membantu ketika ada kejadian bencana. Karena penanggulangan bukan hanya di saat kejadian, maka perlu untuk dipikirkan pembagian tugas-tugas kepada relawan.

“MDMC memandang perlu berbagi peran, berbagi konsentrasi disemua tahapan. Baik tahapan sebelum bencana, saat bencana, dan pasca bencana,” tuturnya

Saat ini, keinginan besar yang akan direalisasikan oleh MDMC adalah untuk menyiapkan masyarakat tangguh bencana. Artinya pelatihan dan diseminasi pengetahuan tentang kebencanaan harus dimassfikan kepada seluruh khalayak, terlebih kepada warga persyarikatan.

The post Peran Perempuan ‘Aisyiyah dalam Penanggulangan Bencana appeared first on Cahaya Islam Berkemajuan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Gulir ke Atas