Muhammadiyah, Toleransi Amaliah

Oleh: Hendra Hari Wahyudi

Persyarikatan Muhammadiyah merupakan sebuah organisasi, yang sebagaimana kita ketahui lahir di Kauman Yogyakarta lebih dari seabad lalu. Banyak memberikan peran dalam kehidupan masyarakat merupakan ciri khas dari organisasi yang didirikan oleh KH. Ahmad Dahlan tersebut, tak hanya berpangku tangan namun turun tangan di setiap permasalahan. Dari sekian lama berdiri, Muhammadiyah hampir tiada absen dalam membantu (ta’awun) untuk negeri. Tentunya hal itu tidak dilakukan dengan tangan hampa, Muhammadiyah membangun peradaban bangsa melalui berbagai amal usaha yang di milikinya.

Rumah Sakit, panti asuhan, hingga ribuan sekolah tersebar di seluruh pelosok negeri, bahkan merambah ke mancanegara. Sampai ada yang menyebutkan bahwa Muhammadiyah merupakan organisasi terkaya di dunia, karena banyaknya amal usaha yang di milikinya itu. Namun, puluhan dan ribuan AUM (Amal Usaha Muhammadiyah) tersebut bukan membuat Muhammadiyah jumawa. Ibarat padi, makin tua, makin berisi, semakin menunduk (rendah hati) serta semakin banyak memberi bagi bumi pertiwi.

Toleransi yang Terkadang Tak Disadari

Dari data PSDM per Desember 2020, ada sekitar 28.163 sekolah dari tingkat Kanak-kanak hingga PTM (Perguruan Tinggi Muhammadiyah), pastinya berisi siswa-mahasiswa dengan berbagai macam latar belakang. Tanpa membeda-bedakan, Muhammadiyah dengan tangan terbuka dan senyum ramah menyambutnya. Sehingga tak jarang banyak saudara yang berbeda keyakinan, terdapat di sekolah-sekolah Muhammadiyah dengan rasa aman dan nyaman.

Namun, di beberapa tempat merasa dan menganggap mereka yang mengenyam pendidikan di Muhammadiyah adalah orang Muhammadiyah secara ideologis, tak jarang anggapan itu datang dari orang Muhammadiyah sendiri. Maklum, bagi orang yang lahir hingga besar menjadi Muhammadiyah, atau biasa disebut Muhammadiyah biologis. Menganggap orang yang bersekolah di Muhammadiyah yakni sebagai orang Muhammadiyah sendiri, padahal itu anggapan yang agaknya terlalu terburu-buru. Ada beberapa faktor yang membuat seseorang menjadi warga Muhammadiyah atau bukan. Di antaranya adalah keikhlasan memperkuat visi dan misi Muhammadiyah dalam membangun bangsa dan ummat.

Toleransi Amaliah

Prof. Abdul Mu’ti bersama Fajar Riza Ul Haq, pernah menulis sebuah buku berjudul Kristen Muhammadiyah (2009). Buku yang merupakan hasil disertasi ini mengisahkan toleransi antara minoritas Islam dengan mayoritas Kristen baik Katolik maupun Protestan dalam wadah pendidikan Muhammadiyah, yang merupakan suatu wujud nyata toleransi Muhammadiyah. Sebagaimana yang kita ketahui, Muhammadiyah banyak mendirikan sekolah di bagian timur Indonesia. Hal ini lah sebagai komitmen Muhammadiyah dalam menjaga keberagaman Indonesia, lewat aksi nyata bukan sekadar kata.

Oleh karena itu, dalam kehidupan berbangsa, Muhammadiyah tak perlu diragukan lagi Keindonesiaannya. Hadirnya sekolah hingga Rumah Sakit (RS) milik Persyarikatan merupakan suatu wujud nyata dalam mewujudkan cita-cita konstitusi, yakni mencerdaskan kehidupan bangsa serta memajukan kesejahteraan umum. Banyak siswa sekolah Muhammadiyah dengan berbagai latar belakang yang berbeda, semua dirangkul sebagai wujud implementasi dari Islam rahmatan lil ‘alamin. Tak hanya sekolah, RS Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah serta Klinik Muhammadiyah yang jumlahnya 364 (Data Update PSDM, Desember 2020), hadir untuk menolong siapa saja tanpa pandang bulu. Sehingga Muhammadiyah bukan hanya berdakwah dalam kata, namun menerapkan ajaran Islam dengan aksi nyata sebagaimana yang diajarkan oleh KH. Ahmad Dahlan lebih dari seratus tahun yang lalu.

Teladan Muhammadiyah Merupakah Dakwah

Dari berbagai aksi nyata tersebut, bahkan mungkin lebih daripada itu, Muhammadiyah telah memberikan keteladanan dalam kehidupan kebangsaan. Hadir sebagai garda terdepan dalam menghadapi pandemi yang sudah sepuluh bulan melanda negeri, Muhammadiyah mencurahkan segala yang ia punya. Total ada 31 juta jiwa (Update MCCC, 5 Januari 2021) penerima manfaat dari respon Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah di masa pandemi, ratusan miliyar, hingga berbagai kebijakan dan himbauan Muhammadiyah di masa pandemi menandakan keteladanan (uswah hanasah) di kala bangsa sedang dilanda krisis teladan.

Tentunya semua itu merupakan langkah dakwah yang diajarkan Islam, sebagaimana firman Allah,

وَأَنْفِقُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ ۛ وَأَحْسِنُوا ۛ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

 “Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (QS al-Baqarah: 195).

Ayat ini senada dengan kalimat KH. Ahmad Dahlan “Janganlah kamu berteriak-teriak sanggup membela agama meskipun harus menyumbangkan jiwamu sekalipun. Jiwamu tidak usah kamu tawarkan. Kalau Tuhan menghendakinya, entah dengan jalan sakit atau tidak, tentu akan mati sendiri. Tapi beranikah kamu menawarkan harta bendamu untuk kepentingan agama? Itulah yang lebih diperlukan pada waktu sekarang ini” (Salam, 1968). Maka, dengan landasan rasa muraqabatullah, yakni keyakinan bahwa kita senantiasa dilihat oleh Allah kapan dan di manapun kita berada (QS.Qaaf:16). Muhammadiyah memanifestasikan ajaran agama lewat perbuatan dengan dasar keikhlasan, sehingga kita tak pernah melihat Muhammadiyah mengharapkan pamrih atas apa yang telah dilakukan. Hal ini merupakan uswah hasanah Muhammadiyah dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, sehingga nantinya warga Muhammadiyah dapat meraih apa yang disebut sebagai khaira ummah (umat terbaik).

Berbuat Tanpa Harus Mengklaim

Oleh sebab itu, Muhammadiyah tidak pernah merasa paling toleran dan paling Pancasila, ia lebih banyak berbuat dan memberi bagi bangsa sebagai perwujudan nilai toleransi dan Pancasila, yang di mana Muhammadiyah menyebut Pancasila sebagai Darul Ahdi Wa Syahadah. Sehingga Keislaman dan Keindonesiaan merupakan komponen yang tidak bisa dipisahkan, saling beriringan satu sama lain dalam membangun peradaban bangsa. Lewat amal usaha yang ada, aksi yang ada, Muhammadiyah turun tangan dalam rangka ber-ta’awun untuk negeri.

Itulah tadi sedikit dari sekian banyak keteladanan Muhammadiyah dalam kehidupan berbangsa, sebagai cahaya Islam yang berkemajuan. Karena melalui teladan, Muhammadiyah mampu bertahan menyinari zaman hingga kini. Tiada lelah membangun negeri, tiada lelah pula membantu bangsa. Sehingga Muhammadiyah bukan hanya sebuah organisasi yang hanya berdakwah saja, namun sebagai gerakan dakwahnya diwujudkan dengan bukti dan aksi nyata yang biasa diistilahkan seperti motto Hizbul Wathan, sedikit bicara banyak bekerja. Serta uswah hasanah (teladan yang baik) yang memberi manfaat bagi seluruh umat dan alam (rahmatan lil ‘alamin) yang didasari rasa ikhlas tanpa pamrih sebagai implementasi ajaran Islam.

Editor: Fauzan AS

The post Muhammadiyah, Toleransi Amaliah appeared first on Cahaya Islam Berkemajuan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Gulir ke Atas