Lima Makna Ummatan Wasathan

MUHAMMADIYAH.OR.ID, JAKARTA — Quran Surah Al Baqarah ayat 143 menerangkan tentang kualifikasi umat yang baik adalah ummatan wasathan. Sekretaris Pimpinan Pusat Muhammadiyah Abdul Mu’ti menerangkan bahwa kalau mencoba menggalinya dari para ahli tafsir, wasath itu paling tidak mengandung lima pengertian.


Pertama, baik atau yang terbaik. Imam al-Qurtubhi memaknai kata wasatha seperti sebuah oase di tengah gurun pasir. “Jadi, ummatan wasathan itu bermakna khair al-ummah (umat terbaik),” kata Guru Besar Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah ini dalam acara yang diselenggarakan PP Ikatan Pelajar Muhammadiyah pada Kamis (31/12).


Kedua, wasath itu bermakna utama atau sesuatu yang amat penting. Ketiga, umat yang adil. Mu’ti menerangkan bahwa makna adil di sini adalah kualifikasi keilmuan dan keterpenuhan syarat-syarat seseorang yang berkaitan dengan bagaimana otoritas dia dalam keilmuan. “Dalam hadis, kriteria adil ini jadi syarat seorang perawi. Sehingga bisa juga diartikan ummatan wasathan sebagai orang yang cerdas,” ujar Mu’ti.


Selain adil dalam kualifikasi keilmuan, juga adil secara hukum. Artinya, semua dasar kebijakan berdasarkan aturan-aturan yang legal bukan berlandaskan suka atau tidak suka. “Adil itu bukan berarti sama rata sama rasa, tapi adil dalam hukum ialah sesuatu yang sesuai dengan ketentuan dan peraturan yang berlaku,” katanya.


Keempat, seimbang. Karena itu, Islam merupakan agama yang seimbang dalam dunia dan akhirat. Kelima, wasath itu artinya moderat. “seseorang yang tidak ekstrem dalam berperilaku, baik dalam pengambilan keputusan maupun di dalam melaksanakan berbagai amalan termasuk dalam ibadah,” terang Mu’ti.

The post Lima Makna Ummatan Wasathan appeared first on Cahaya Islam Berkemajuan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Gulir ke Atas